SURABAYA – SURYA – Saat menyaksikan tayangan pelantikan menteri kabinet di layar kaca di kantor PWNU Jatim, di Jl Gayungsari Surabaya, Kamis (22/10/2009). Beberapa orang terdengar justru lebih antusias membicarakan Imam Nahrawi selaku ketua DPW PKB Jatim.
Selidik punya selidik ternyata dibicarakannya nama Nahrawi itu berhubungan dengan Muhaimin Iskandar yang dilantik menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transimigrasi oleh Presiden SBY. “Orang paling gembira sekarang ya Nahrawi karena dapat rejeki nomplok,” tutur Achmad Rubaidi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim yang juga teman kuliah Imam Nahrawi.
Rejeki nomplok yang dimaksud Rubaidi adalah kursi DPR milik Muhaimin. Kursi DPR dari daerah pemilihan Surabaya-Sidoarjo itu hampir pasti diwariskan pada Imam Nahrawi.
Ini bisa terjadi karena Imam Nahrawi yang tidak lolos dalam pemilu 2009 lalu, perolehan suaranya berada di urutan dua, dibawah Muhaimin. Nahrawi memperoleh 27.514 suara sedang Muhaimin mengumpulkan 51.704.
Rubaidi menyebut limpahan kursi DPR untuk itu semakin memperkuat kesan Nahrawi sebagai sosok akrab dengan hoki (keberuntungan). Rubaidi yang cukup lama berteman dengan Imam Nahrawi di PMII, tahu persis deretan keberuntungan yang menempel pada Imam.
Dosen IAIN ini lalu memberi contoh perjalanan Imam menjadi Ketua PMII Surabaya dan Ketua PMII Jatim. Dalam dua forum itu, Nahrawi awalnya tidak ada yang menyebut. Tapi ternyata menjelang pemilihan, muncul ketegangan antar pendukung calon lain. Nahrawi lalu dimunculkan jadi alternatif dan akhirnya ia terpilih.
Di jalur politik, hoki Imam Nahrawi dimulai ketika berani melakukan perlawan terhadap Choirul Anam, Ketua DPW PKB Jatim. Ia memaksa mendirikan Garda Bangsa, meski tidak diakui Choirul Anam. Padahal kepengurusan Choirul Anam sedang jaya-jayanya. Buah keberanian itu, ketika terjadi gonjang-ganjing dan kepengurusan Choirul Anam di bekukan, Nahrawi yang terbilang masih bau kencur ditunjuk DPP menjadi caretaker DPW PKB Jatim.
Pembekuan Gus Dur
Hoki berlanjut dan yang paling mencolok adalah ketika kepengurusan Nahrawi di DPW Jatim dibekukan DPP. Surat pembekuan ditandatangani Gus Dur dan Muhaimin. Situasi makin tidak menguntungkan Nahrawi ketika kepengurusan DPW PKB sebagai penggantinya terbentuk, di bawah pimpinan Hasan Aminuddin-Fuad Amin Imron. Kalangan politisi dan pengamat, mayoritas saat itu menganggap sebagai akhir karir politik Imam Nahrawi. Tapi hoki bicara lain.
Tidak disangka gonjang-ganjing besar kemudian melanda DPP PKB. Muhaimin dan Gus Dur terpecah. DPW PKB Hasan Aminuddin-Fuad Aminuddin yang menggantikan kepengurusan Nahrawi ikut kubu Gus Dur. Saat itulah kepengurusan Imam Nahrawi yang semula dibekukan dihidupkan kembali oleh Muhaimin. “Selain faktor hoki tinggi, Nahrawi memang cukup pinter baca situasi. Satu lagi yang penting, dia itu bisa dibilang sigle fighter, jadi tidak didukung tim kuat sekalipun berani jalan,” kata Rubaidi yang juga dosen IAIN tersebut.
Imam Nahrawi sendiri mengaku masalah hoki yang disebut-sebut kerap memayunginya itu urusan Tuhan. “Yang saya lakukan selama ini, ya yang penting berusaha sungguh-sungguh. Prinsipnya dalam bergorganisasi dan berpolitik, mencari teman sebanyak-banyaknya. Selebihnya, saya serahkan pada Tuhan,” jawabnya sembari tertawa.
Ditanya kapan proses pergantian antar waktu (PAW) di DPR akan dilakukan, Imam Nahrawi mengaku tidak tahu pasti. Namun Imam memperkirakan PAW yang akan mengantarkan dirinya dalam periode kedua di Senayan tersebut akan berjalan 2-3 bulan mendatang. SUYANTO
http://www.surya.co.id/2009/10/23/segera-ganti-kursi-muhaimin-di-dpr-nahrawi-selalu-lekat-dengan-keberuntungan.html
Berita No Comments